Masa Pendudukan Jepang

Masa Pendudukan Jepang Tentara jepang berhasil memenangkan pertempuran di Pasifik melawan tentara sekutu. Kemudian, mereka terus bergerak ke selatan memasuki wilayah Asia Tenggara, tidak terkekecuali Indonesia. Asia untuk Asia; itulah yang ada dibenak mereka

1. penyerbuan Tentara Jepang ke Asia Tenggara
Pada tanggal 7 Desember 1941, tentara Jepang secara mendadak mengadakan serangan terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour, Hawai. Lima jam setelah peristiwa itu, Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan perang kepada Jepang.
Invasi Jepang ke Asia Tenggara mula-mula ditujukkan ke Hongkong. Walaupun Inggris mengadakan perlawanan, tetapi tidak berlangsung lama. Pada tanggal 25 Desember 1941, Hongkong resmi diduduki oleh Jepang. Penyerbuan selanjutnya ditujukkan terhadap Malaysia yang merupakan pusat pertahanan Inggris yang vital. Inggris mempertahankan Malaysia secara mati-matian, tetapi akhirnya berhasil dilumpuhkan pada bulan Februari 1942. serangan berikutnya dilancarkan ke Jepang ke wilayah Birma. Akhirnya Jepang berhasil menguasai Birma pada bulan Mei 1942.
Daerah yang menjadi serangan berikutnya adalah Filipina. Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Masaharu Homma mendapat perlawanan yang hebat dari tentara Amerika Serikat dibawah komandan Jendral Douglas Mac Arthur. Namun, lambat laun pertempuran pun tidak seimbang, maka Presiden Rooselvelt memerintahkan Mac Arthur mengundurkan diri ke Australia. Sebelum meninggalkan Filipina, Mac Arthur berucap, “I shall return” (saya akan kembali).
Guna mengantisipasi serangan Jepang, negara-negara sekutu di Asia Tenggara setelah membentuk komando gabungan dengan nama Abdacom (American, British, Dutch, Australian Command). Komandan tertingginya dijabat oleh Marsekal Sir Archibald Wavell (Inggris), komandan angkatan laut adalah Laksamana Thomas C. Harth (Amerika), komandan angkatan darat adalah Letnan Jendral Hein Ter Poorten (Belanda), dan komandan angkatan udara adalahMarsekal Richard E,C. Pierce (Australia).

Markas besar Abdacom berada di Lembang (Jawa Barat), sedangkan markas besar Angkatan Lautnya di Surabaya. Untuk pertahanan di laut, sekutu membagi daerah perairan Asia Tenggara atas tiga bagian. Wilayah barat, dimulai dari Laut Cina Selatan, Laut Hindia, dan Singapura, merupakan tanggung jawab Inggris. Wilayah perairan Makasar terus ke timur menjadi tanggung jawab Amerika dan Australia, sedangkan Laut Jawa menjadi tanggung jawab Belanda.
Abdacom memiliki sejumlah kelemahan, yaitu:
a. Jumlah tentaranya tidak memadai dibandingkan dengan jumlah tentara Jepang.
b. Mereka tidak pernah mengdakan latihan bersama. Sistem perang maupun sistem komandonya masing-masing berbeda. Sebaliknya, pihak Jepang memiliki tentara dalam jumlah besar. Mereka dibawah satu komando terlatih dan memiliki semangat bushido yang tinggi.

Dalam serangannya terhadap Sekutu di Laut Cina Selatan, kapal Inggris Prince of Wales dan Repulse berhasil ditenggelamkan oleh 50 pembom berani mati Jepang. Dan akhirnya setelah peristiwa itu Abdacom berantakan, komandan tertinggi yaitu Sir Archibald Wavell akhirnya terpaksa meninggalkan Indonesia karena sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan meningkir ke India untuk mempertahankan India.

2. Penyerbuan Tentara Jepang ke Indonesia

Dalam serangannya ke Indonesia, tentara Jepang memperoleh kemajuanyang sangat cepat. Secara gemilang, Jepang menduduki Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942, Palembang pada tanggal 14 Januari, Manado pada tanggal 17 Januari, Balikpapan pada tanggal 22 Januari, Pontianak pada tanggal 22 Februari, dan Bali pada tanggal 26 Februari 1942.
Dalam upaya merebut pulau Jawa, Jepang membentuk Operasi Gurita. Gurita Barat dimulai dari Indo-Cina melalui Kalimantan Utara dengan sasaran Pulau Jawa, sedangkan Gurita Timur dimuai dari Filipina melalui selat Makasar menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Operasi Gurita Barat tidak mengalami kesulitan mendarat di Eretan (Indramayu) dan Banten, sedangkan Gurita Timur harus menghadapi Sekutu dalam pertempuran laut dekat Balikpapan (Kalimantan Timur). Juga di Laut Jawa (The Battle of the Java Sea) terutama diperairan antara Bawean, Tuban, dan Laut Rembang berlangsung pertempuran selama 7 jam pada tanggal 27 Februari1942.
Untuk menghindari semakin banyak korban, terutama keluarga-keluarga Belanda yang semakin banyak memadati daerah Kalijati, Belanda terpaksa menyerah kalah terhadap Jepang pada tnggal Maret 1942 dan menandatangani perjanjian Kalijati. Perjanjian itu ditandatangani bersama oleh Tjarda van Starkenborgh Starchouwer (Gubernur Jendral Hindia-Belanda) dan Jendral Hitoshi Imamura (Koman Gurita Barat) dari Jepang serta Letnan Jendral Heindrik Ter Poorten (Pnglima Tentara Belanda).

3. Kebijakan Politik Jepang pada Awal Pedudukan
Organisasi-organisasi yang dibentuk untuk kepentingan Militer Jepang itu adalah sebagai berikut:
a. Gerakan Tiga A
Gerakan Tiga A adalah organisasi yang mula-mula dibentuk dengan semboyan: Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia. Jepang mampu sebagai Cahaya (penerang), Pemimpin, dan Pelindung bagi negara-negara Asia lainnya. Dan ternyata Gerakan Tiga A tidak bertahan lama karena tidak mendapat simpati rakyat.
b. Pusat Tenaga Rakyat (Putera)
Untuk menarik simpati rakyat, pemerintah militer Jepang menawarkn kerja sama dengan para pemimpin indonesia. Oleh karenanya, tokoh-tokoh pergerakan Nasional, seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, dan Sultan Syahir dibebaskan. Para pemimpin bangsa Indonesia itu bersedia bekerja sama dengan pemerintah militer Jepang. Dengan adanya persetujuan kerja sama, dibentuklah organisasi baru bernama Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Organisasi ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara.
Pusat tenaga Rakyat yang dibentu pada 16 April 1945. organisasi ini disusun sengan pimpinan pusatnya di Jakarta. Organisasi-organisasi profesi yang menjadi anggota Putera, antara lain: Persatuan Guru Indonesia, Perkumpulan Pegawai Pos, Telegraf, dan Radio, Isteri Indonesia, Barisan Banteng, Badan Perantara Pelajar-pelajar Indonesia, dan Ikatan Sport Indonesia.
c. Jawa Hokokai
Dengan alasan Potera lebih menguntungkan Indonesia, Pemerintah militer Jepang membentuk Organisasi baru, yaitu Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Alasan pembentukan Jawa Hokokai adalah agar Indonesia dihimpun tenaganya lahir dan batin untuk digalang kebaktiannya sesuai dengan hokoseisyen (semangat kebaktian). Di dalam tradisi Jepang ada tiga dasar utama, yaitu rela mengorbankan diri, mempertebal persahabatan, dan mengerjakan sesuatu harus menghasilkan bukti. Pimpinan organisasi ini berada ditangan Gunseikan (kepala pemerintah militer) dan ditiap derah dipimpin oleh Syucokan (gubernur/residen).
Jawa Hokokai terdiri dari berbagai macam hokokai profesi diantaranya Izi Hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Pndidik), Fujinkai (Organisasi Wanita), dan Ke imin Bunko Syidosyo (Pusat Budaya).
d. Chou Singi-In
Memsuki awal tahun 1943 Jepang mulai melemah. Mereka mengalami kekalahan beruntun di berbagi front pertempuran. Pada tanggal 8 Januari 1943, Perdana Menteri Tojo mengumumkan secara resmi bahwa Filipina dan Birma akan memperoleh kemerdekaannya pada tahun itu juga, sedangkan mengenai Indonesia tidak disinggung sama sekali. Pernyataan itu dapat menyinggung perasaan kaum nasionalis dan rakyat Indonesia umumnya. Oleh karena itu, Perdana Menteri Tojo menganggap perlu mengirim Menteri Urusan Asia Timur Raya, Aoki, ke Jakarta awal bulan Mei 1943. Aoki adalah Menteri Jepang pertama kali yang ada di Indonesia.
Sehubungan dengan pertemuan tokoh-tokoh empat serangkai dengan Menteri Aoki itulah, maka pada tanggal 7 Juli 1943, Tojo datang ke Jakarta.

45 comments on “Masa Pendudukan Jepang

  1. Mckinley Bouse March 1, 2010 3:27 pm

    Sorry for the huge review, but I’m really loving the benten, and hope this, as well as the excellent reviews some other people have written, will help you decide if it’s the right choice for you.

  2. annisa June 11, 2010 3:53 am

    Aku bangga jadi bangsa indonesia yang merdeka sesungguhnya,tap!!!!!!!!!! sayang banget kenapa orang zaman sekarang udah ga mau menghargai perjuangan para pahlawan!!!!!malahan sekarang mereka dering bentrok,ga tau apa kalau untuk mencapai kemerdekaan itu sulit

  3. galuh maharani July 22, 2010 11:55 am

    wes ,,, bangga saya jd warga negara indonesia … tpi knpa zaman skarang gag prnah meghargai dan menghormati perjuangan para pahlawan mungkin klo bkn karena mreka indonesia blm merdeka,,, !!! huh bnyak bgt warga indonesia yg mati dlm membela bangsa indonesia,,, !!!

  4. wulan August 12, 2010 7:33 am

    akk bangga bngt jdi anak indonesia ..
    walaupun pernah kebudayaannya dcuri tapi pemerintah indonesia tdak prnah lelah bwt prjwangin kbdayaannya it ..
    mka drii it sya bngga jdii anak indonesia ….

  5. wawan kurniawan September 1, 2010 2:53 pm

    aku bangga jugo lha ..
    kalo ado yang ngajak perang , kalo dak pecah kpala nya aku buat ..
    pkok maju lha indonesia ku ini :D

  6. vhira September 27, 2010 11:11 am

    qu bangga jdi ank INDONESIA
    pi kenapa anak bangsa skrg gk mau pertahankan INDONESIA yg mau d.rebut sama Malaysia

  7. Laily October 14, 2010 12:12 pm

    hem,,,buat Qt mua yg mngaku bangsa Indonesia….semangat pendidikan hal yg trpenting tueh,,,, pluss agama yg kuat…..biar babgsa Qt gag ktinggaln lg….

  8. indah November 28, 2010 12:18 pm

    aku bangga melihat perjuangan dan sejarah bangsa indonesia.

  9. dinar January 6, 2011 8:01 am

    q bngg am indo ……… ,,,,,,,,, semangat .

  10. mekar salsabila January 18, 2011 1:14 pm

    hebbat…buad para pahlawan….
    n aquech bangga jdi ank indonesia….
    semangat trus….n kita hrus menghargai jasa pahlawan kitta…

    MAJU TERUS INDONESIAKU…

    ^_^

  11. Tasya January 25, 2011 12:19 pm

    panjang kali siii…
    pushing jd naa

  12. ryco January 26, 2011 1:56 pm

    bu@t cemua ” yg lg mnghdap ..”U~N,,, blajar pnuhh smangat….

  13. sunarko February 9, 2011 2:33 pm

    aku bangga menjadi bangsa indonesia…..
    walaupun sekarang aku entah di akui sebagai warga indonesia ayau tidak….

  14. roro February 24, 2011 2:43 am

    aku snng bngt jdi anak Indonesia
    yg buat aku bangga adalah
    karna para phlwn tlah memerdekakan Indonesia…
    dan…, aku bangga karna mreka smua
    bersifat sngt Nasionalisme! :D

  15. Rafi Canaan March 16, 2011 8:01 am

    wah iki lengkap

  16. Amalia March 27, 2011 12:57 am

    LENGKAP dan keren. Aku salut dengan Negara ini, sejarah negara ini dan para tokoh politik yang menggunakan otak mereka untuk negara. Jika dipikir-pikir itulah pemimpin yang baik. Sekarang marilah kita menerima kenyataan. Bahwa, Indonesia sudah bukan berisikan pemimpin-pemimpin YANG KEBANYAKAN sudah menyalah gunakan kekuasaanya hanya untuk UANG DAN HAK-HAK YANG LAIN.

  17. lulu dewi May 23, 2011 1:01 pm

    waach aku bngga jdi ank bngsa indnesia…………..salut dach . . . . . . . . . . . . . . by luluk jogja

  18. wuland widyanti August 12, 2011 4:34 am

    g nyangka kalo zaman dlu pahlawan” kita berani mati hanya untuk membuat indonesia merdeka…
    aku bangga jadi anak indonesia..

  19. Chuelitye Mentari September 26, 2011 12:05 pm

    betul tuh betul tuh…..
    Semoga kami bibit indonesia bisa memajukan nama Indonesia dan membuat pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang tidak sia-sia dan bangga pada kami…. :D

  20. siti asiyah November 22, 2011 8:55 am

    bkan hnya rsa bngga yg hrus d utmkn, tp rsa smngt nasionalime jg prlu dtmbuhkn agr qt bsa mnjd wrga ngra yg baik_fahami dan teladani nilai-nilai di balik pristwa bersejarah trsbt agr rsa cnta qt pd indonesia smkin menggelora . . . .

  21. tasha December 13, 2011 11:03 am

    mau nanya kalau tokoh 4 serangkai dari golongan agamawan tokoh-tokohnya sama kaya yang 4 serangkai yang disebutin diatas atau beda ? makasaih sebelumnya ^^”

  22. Van Lieden December 30, 2011 5:36 pm

    We can still see the Dutch in Bahasa Indonesia, history always has its own face to tell us what had happened.

    Met Vriendelijke Groet.

  23. Putri clalu syank chibi January 19, 2012 10:09 am

    Aku mau nanya tokoh yang termasuk 4 serangkai itu apa aja………

  24. ANITA January 22, 2012 10:27 am

    ju2r q bngga bgt jdi orang indonesia,.,.,.,n spatutx kita smua brsyukur sebab tanpa brsusah pyah kita sudah bs menikmati hsil prjuangan para pahlawan yang trdahulu.,.,.,next PR kita slanjutx menjaga bangsa ini agar trus ada daN mperbaiki agar layak d mta dunia.,.,.,OK

  25. Indra Ganie February 8, 2012 3:44 am

    JEPANG, (MANTAN) PENJAJAH YANG CENDERUNG TERLUPAKAN

    Oleh : Indra Ganie

    Tulisan ini untuk mengenang 70 tahun (1942-2012) awal pendudukan Jepang di wilayah yang kini disebut “Indonesia”. Sekitar 4 juta warga tewas akibat kekejaman dan kelalaian pemerintah pendudukan.

    Ada suatu kisah “kecil” dari Piala Dunia 2010, seakan menjadi hal rutin jika di antara masyarakat kita memilih kesebelasan negara tertentu sebagai pujaan atau jagoannya. Ada menjagokan Spanyol, ada pilih Italia, ada yang pro Jerman dan lain sebagainya. Tak diragukan lagi bahwa sepak bola adalah jenis olah raga yang paling banyak penggemarnya di kolong langit ini. Event yang berkaitan dengan sepak bola semisal Piala Dunia atau Piala Eropa adalah hal yang sangat ditunggu atau dirindu sebagian besar masyarakat di planet ini.

    Ketika pertandingan demi pertandingan dilalui maka semakin semakin banyak kesebelasan yang tersingkir, akhirnya yang maju ke babak final adalah Spanyol dan Belanda. Dan pada akhirnya para penonton – yang tentu saja penasaran – seakan harus memilih satu diantara dua kesebelasan tersebut. Pada titik itu yang menjadi pembahasan masyarakat – termasuk di lingkungan kantor penulis – bukan hanya taktik atau teknik bermain, namun sadar atau tak sadar ada satu hal yang jarang dipedulikan jadi ikut terbawa, yaitu urusan sejarah.

    Penulis mendapat kesan, mayoritas orang kantor memilih Spanyol, apa kesan mereka terhadap Belanda? Tercetus dari mulut beberapa orang berpendapat tentang Belanda semisal, “Huh itu penjajah! Kenapa, atau untuk apa mendukung Belanda?” Seakan terlupakan bahwa sejumlah negara peserta Piala Dunia tersebut adalah (mantan) penjajah antara lain Spanyol, Portugal, Inggris dan Jepang, ini hanya untuk menyebut yang pernah “bertualang” atau “bermain” di negeri yang disebut dengan “Indonesia”. Dan yang menarik penulis adalah, pendapat ketus atau sinis tersebut keluar dari mulut orang-orang yang sama sekali tidak pernah mengalami penjajahan Belanda, tapi mengapa kenangan tersebut (masih) begitu dalam tertanam atau kuat teringat pada benak rakyat Indonesia, termasuk pada generasi yang lahir setelah sekian tahun Indonesia merdeka?

    Butuh waktu lama bagi penulis mencari jawabannya dan kini penulis mencoba menjelaskannya, walau mungkin kurang sempurna.

    Setiap bangsa atau kelompok masyarakat memiliki sejarah dan ingatan bersama (collective memory) tentang apa yang telah dilaluinya di masa silam, tak terkecuali kelompok masyarakat yang disebut “bangsa Indonesia”. Bangsa ini memiliki sejarah yang terbilang panjang – termasuk sejarah penjajahan. Dari sekian fihak yang pernah menjadi penjajah di negeri ini, Belanda adalah penjajah yang paling lama hadir atau bercokol. Inilah yang menyebabkan kenangan bersama yang tertanam dalam atau teringat kuat adalah penjajahan Belanda!

    Jika ingin merenung lebih luas lagi, yang sering dikenang sebagai penjajah adalah Eropa, atau “orang Barat” – dan Belanda adalah termasuk mereka. Maka, Barat identiklah dengan penjajah dengan berbagai istilah semisal “imperialis” dan/atau “kolonialis”.

    Kenangan tersebut agaknya tidak keliru karena dasarnya kuat, Barat memiliki riwayat penjajahan yang lama dan luas. Diawali oleh Yunani, disambung oleh Romawi, kemudian berlanjut oleh Spanyol. Portugis, Inggris, Belanda, Rusia, Perancis, Italia, Jerman, bahkan Belgia – negeri kecil yang berontak untuk lepas dari Belanda juga tak mau ketinggalan. Penjajahan (lagi) oleh Barat yang dimulai pada abad-16 mencapai puncak kejayaannya pada abad-20, saat Perang Dunia-2 dimulai sekitar 80% planet ini dikuasai Barat – dengan bermacam istilah semisal “koloni”, “persemakmuran” atau “protektorat”. Sungguh “malang” nasib Belanda (atau Barat pada umumnya), citra sebagai penjajah tak pernah lenyap dari ingatan. Cenderung terlupakanlah bahwa Indonesia khususnya – kawasan Asia-Pasifik umumnya – pernah mengalami penjajahan yang “bukan Barat”, yaitu Jepang.

    Agaknya Jepang cukup “mujur”, citra sebagai (mantan) penjajah kurang disimak atau diingat. Penjajahan Jepang yang berujung pada kekalahannya akibat Perang Dunia-2 ternyata mengandung hikmah untuk jangka panjang. Penjajahan Jepang yang paling lama adalah diTaiwan – kini dikenal dengan “Republik Cina”, yaitu 50 tahun. Sungguh beda dengan penjajahan Barat, berlangsung selama ratusan tahun – antara lain di Indonesia. Untuk Indonesia, penjajahan Jepang “hanya” berlangsung 3,5 tahun.

    Penjajahan Jepang yang terbilang singkat tersebut makin “tertolong” untuk dilupakan dengan fakta bahwa setelah Jepang kalah, Indonesia kembali mengalami kekuasaan Barat. Walau ada proklamasi kemerdekaan dan penegasan dalam konstitusi bahwa wilayah yang disebut “Republik Indonesia” mencakup bekas wilayah Hindia Belanda, namun dengan begitu cepat kekuatan kolonial Barat – dengan istilah “Sekutu” – yang merupakan gabungan Persemakmuran Inggris dan Belanda kembali hadir dan merebut sebagian besar wilayah yang dituntut sebagai wilayah Republik Indonesia. Kekuasaan Barat yang sempat pulih pada 1945 di bekas wilayah Hindia Belanda baru berakhir pada 1962, ketika Belanda harus melepas Irian Barat. Dengan kata lain, penjajahan Jepang sudah singkat, terjepit pula.

    Fakta tersebut di atas mempengaruhi dunia ilmiah atau akademis, begitu banyak atau relatif mudah menemukan kajian ilmiah, penelitian atau karya tulis tentang penjajahan Belanda / Barat. Begitu sedikit atau relatif sulit menemukan hal serupa tentang penjajahan Jepang. Akibatnya, makin “membantu” memperkuat ingatan bersama bangsa ini tentang penjajahan Barat dan makin mengurangi ingatan tentang penjajahan Jepang. Bagi penulis – yang terbilang gemar sejarah, ada suatu kejenuhan menelusuri sejarah penjajahan Barat dan mulai tertarik menelusuri penjajahan Jepang.

    Bahwa penjajahan Jepang terbilang singkat dan terjepit 2 perioda kekuasaan Barat, bukanlah alasan untuk menganggap bahwa perioda tersebut tidak memberi bekas atau pengaruh pada kita. Warisan penjajahan Jepang begitu dekat – bahkan lekat dengan hidup keseharian kita namun cenderung tidak terasa.

    Pertama, kemerdekaan yang kini kita rasakan sekaligus negara yang kita miliki. Prosesnya tidak terlepas dari pengaruh Jepang. Pembentukan “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia” dan “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia merdeka, adalah prakarsa Jepang. Walau jadwal proklamasi kemerdekaan dapat dipercepat dari jadwal yang direncanakan Jepang, jika sudi direnungkan maka sukarlah untuk menghilangkan kesan bahwa Republik Indonesia sekian persennya adalah buatan Jepang. Penyusunan konstitusi yang menjadi dasar penetapan arah, tujuan dan kelengkapan negara jelas berada dalam lingkup 2 organisasi bentukan Jepang tersebut.

    Kedua, sistem keamanan lingkungan yang dikenal dengan rukun warga, rukun tetangga, pertahanan sipil (hansip) – yang kini disebut satuan pengaman (satpam). Jepang yang pertama memperkenalkan konsep tersebut. Ada 2 tujuan sekaligus yang ingin dicapai oleh pemerintah Jepang, sebagai bagian dari pengerahan rakyat semesta melawan Sekutu dan upaya mengawasi masyarakat hingga unit terkecil dari kemungkinan subversi, infiltrasi dan sabotase.

    Ketiga, barang-barang “made in Japan” yang kini merajai pasaran semisal otomotif. Pada zaman kolonial Belanda, mobil buatan Barat merajai jalanan seantero Hindia Belanda – dan tentu saja jumlahnya tidak seramai sekarang. Nah, coba saksikan sekarang, mungkin 99% mobil dan sepeda motor yang “merajalela” di jalanan adalah merk Jepang semisal Toyota, Daihatsu, Honda dan lain-lain.

    Penulis berharap, tulisan sederhana ini merangsang hasrat untuk menelusuri atau meneliti lebih jauh tentang perioda penjajahan Jepang, yang pada gilirannya akan menghasilkan tulisan atau kajian lebih banyak lagi tentang hal tersebut. Penulis menilai bahwa penjajahan Jepang memang singkat tetapi padat. Padat dengan perubahan dan tentu saja padat dengan penderitaan. Sekitar 4.000.000 orang tewas akibat kekejaman dan kelalaian, sungguh tragis dan ironis. Indonesia tak pernah berperang dengan Jepang selama Perang Pasifik (7/12/1941 – 2/9/1945), namun mengalami jumlah korban tewas pada urutan nomor 4 – dibawah jumlah korban tewas yang diderita Polandia yaitu sekitar 6.000.000. Jika Polandia sangat menderita, karena ada perlawanan cukup berat terhadap Nazi. Rakyat Indonesia dibiarkan tak berdaya ketika kolonial Belanda dipaksa menyerah saat Kapitulasi Kalijati 8 Maret 1942 – tanpa perlawanan berarti. Belanda menyatakan perang melawan Jepang namun rakyat Indonesia yang menanggung akibatnya, dan status keadaan perang tersebut masih berlangsung hingga 1958, ketika pemerintah Republik sepakat dengan pemerintah Jepang untuk mengakhirinya. Perjanjian pampasan perang yang merupakan awal terjalin hubungan diplomatik ternyata masih menyisakan masalah. Pampasan perang yang telah dibayar oleh Jepang dengan berbagai skema relatif tidak banyak dinikmati oleh rakyat Indonesia karena praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Belakangan terungkap bahwa perjanjian pampasan perang tersebut belum mencakup segala penderitaan rakyat Indonesia selama pendudukan Jepang (8/3/1942 – 17/8/1945). Dengan berbagai cara pemerintah Jepang mencoba mengelak dari tanggungjawab sejarah yang masih tersisa, atau berusaha memenuhi tuntutan sesedikit mungkin. Makin menyakitkan lagi bahwa pemerintah Republik cenderung diam atau kurang peduli.

    Perlu diketahui pula bahwa penjajahan Jepang tidak berhenti pada tahun 1945. Sejak hubungan diplomatik terjalin, sambil membayar pampasan perang dan memberi bantuan dalam bentuk lain Jepang berusaha mencari peluang untuk mempengaruhi atau menguasai Indonesia secara pelan-pelan. Bantuan Jepang untuk Indonesia sebagian besar adalah berbentuk hutang, yang jelas membebani APBN kita – yang semestinya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

    Berdasar pernyataan tertanggal 7 Maret 2007 dari Jaringan Anti Penjajahan Jepang – gabungan sejumlah organisasi semisal Arus Pelangi, INFID, Koalisi Perempuan Indonesia, Migran CARE – ada sejumlah perilaku “tak pantas” yang dilakukan Jepang khususnya terhadap Indonesia antara lain :

    Pertama, Jepang berusaha menutupi kejahatan perang selama perioda 1931-45, khususnya pendudukan di Indonesia 1942-5 yang mencakup antara lain pengerahan secara tipu atau paksa secara masal kaum lelaki untuk kerja paksa (romusha) dan perempuan untuk melayani nafsu “bawah perut” lelaki Jepang (juugun ianfu). Buku pelajaran sejarah cenderung “melembutkan” kisah perang yang dilakukan Jepang sekaligus menampilkan citra Jepang sebagai pembebas Asia dari imperialisme Barat.

    Kedua, terkait dengan point pertama, Jepang gigih menolak meminta maaf apalagi memberi ganti rugi yang pantas bagi para korban.

    Ketiga, pemberian bantuan yang sebagian besar dalam bentuk hutang sebagaimana telah disebut di atas.

    Keempat, hibah barang-barang bekas semisal kereta dan bis. Ini tak lebih merupakan politik “buang sampah” berupa barang bekas. Selain tak lepas dari aroma korupsi, untuk jangka panjang perawatan barang bekas tersebut lebih mahal dibanding beli baru, menimbulkan polusi dan sebagai tambahan menurut penulis adalah pelecehan martabat bangsa karena disodori barang bekas.

    Kelima, praktek perdagangan manusia terutama perempuan dengan modus pengiriman tenaga entertainment ke Jepang yang ujung-ujungnya terjerumus ke dunia prostitusi dan penempatan buruh magang yang faktanya dipaksa bekerja penuh waktu dengan tempat yang beresiko relatif tinggi sekaligus dengan upah murah.

    Pada 20 Agustus 2007 diteken kesepakatan kemitraan “Indonesia Japan Economic Partnership Agreement” antara Perdana Menteri Shinzo Abe dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    Dilihat dari istilah “kemitraan” atau “partnership”, mungkin ada rasa kebanggaan karena dari istilah tersebut terkesan ada kesetaraan antar Jepang dengan Indonesia. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau menganggap lebih rendah satu sama lain. Padahal siapapun tahu siapa Jepang dan siapa Indonesia.

    Dari pengalaman sejarah, bangsa Indonesia pernah membuat perjanjian dengan bangsa asing antara lain perdagangan – dengan segala dampaknya. Perjanjian dengan bangsa lain bukan ha lasing bagi bangsa ini. Namun, tentu harus difahami bahwa setiap perjanjian perlu dipelajari atau dibahas sejauh mungkin untuk kemanfaatan bersama. Tidak ada yang merasa dirugikan. Perihal perjanjian yang merugikan pun pernah dialami bangsa ini, penyebabnya bisa karena ditipu atau bisa juga dipaksa. Boleh dibilang bangsa ini sudah “kenyang” dengan perjanjian macam itu. Contoh jelasnya, penjajahan yang dialami bangsa ini untuk sekian persennya adalah akibat dari perjanjian yang tidak adil atau tidak jujur .

    Terkait dengan IJEPA, menurut tulisan Samsul Prihatno tertangal 20 Agustus 2007 dengan judul “IJEPA Memperkuat ‘Penjajahan’ Jepang Di Indonesia”, ada sejumlah hal yang berpotensi merugikan Indonesia antara lain :

    Pertama, IJEPA adalah bentuk strategi mengamankan energi Jepang terutama untuk gas dan batu bara. Hal tersebut dpat mengancam ketahanan energi Indonesia karena gas adalah sumber daya tak terbarukan. Krisis energi yang saat ini tengah mengemuka dalam politik global hendaknya menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk melakukan pengamanan pasokan energi di dalam negeri, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, pertanian dan industri dalam negeri secara berkelanjutan.

    Kedua, komponen peningkatan kapasitas dan asistensi teknis di dalam hubungan “partnership” ini adalah kepentingan Jepang, di mana segala sesuatunya akan didatangkan dan dikelola oleh Jepang. Sementara itu sifat “partnership” ini tidaklah bersifat “dispute mechanism”, artinya Jepang tidak dapat dituntut bila tidak melakukannya. Sementara kesepakatan lainnya bersifat “dispute mechanism”, di mana pihak Indonesia dapat dituntut bila tidak menjalankan disiplin dalam kesepakatan IJEPA ini.

    Masih ada sejumlah hal lain yang berpotensi merugikan Indonesia namun penulis cukupkan mengutip 2 hal di atas, intinya IJEPA adalah bentuk baru penjajahan Jepang di Indonesia.

    Kesimpulan dari tulisan ini, waspadai perilaku bangsa lain – khususnya Jepang – terhadap bangsa ini. Ingat, ada sekitar 1000 perusahaan Jepang di negeri ini, luangkan waktu meneliti bagaimana keadaan para pegawai bangsa Indonesia. Ingat, Jepang adalah negara donor terbesar bagi Indonesia, cermati bagaimana bentuk bantuan untuk Indonesia. Jangan sampai ada penjajahan jilid 2 dari bangsa mana pun. Indonesia adalah negeri yang menggiurkan karena wilayah luas, alam kaya, letak strategis dan penduduk banyak. Indonesia sejak lama menjadi sumber bahan baku sekaligus sumber pemasaran yang melimpah. Inilah yang diincar oleh penjajah segala zaman.

  26. Indra Ganie February 8, 2012 3:49 am

    ARTIKEL :

    Indonesia Di antara Pertarungan Pengaruh Asing

    Oleh : Indra Ganie

    Selasa, 21 Juni 2011

    • Mengenang 5 abad (1511-2011) awal penjajahan di Nusantara
    • Mengenang 110 tahun (1901-2011) lahir Soekarno
    • Mengenang 65 tahun (1946-2011) gugur pamanku R Supardan di Front Karawang-Bekasi

    Sejak awal Masehi – atau mungkin lebih tua dari itu – wilayah yang kini disebut “NKRI” (Negara Kesatuan Republik Indonesia), bahkan Asia Tenggara telah menjadi wilayah saling silang dan saling padu pengaruh asing semisal Cina, India, Arab, Persia dan Eropa. Hingga abad-16 hal tersebut berlangsung relatif damai, semua untung. Boleh dibilang tidak ada apa yang disebut dengan “penjajahan”.

    Suasana damai tersebut berubah pada abad-16, ketika sejumlah bangsa-bangsa Eropa/Barat hadir ke Asia Tenggara – termasuk ke Kepulauan Indonesia. Mereka hadir dengan perilaku yang berbeda dengan bangsa-bangsa sebelumnya, yaitu memaksakan kehendaknya kepada fihak lain sehingga berkobar konflik yang berdarah-darah. Selain bersaing dengan bangsa Asia, mereka juga bersaing sengit dengan sesamanya – juga hingga berdarah-darah. Khusus di Indonesia – waktu itu dikenal dengan “Nederlandsch Indiche”, masuk abad-20 bangsa Eropa yaitu Belanda memastikan diri sebagai pemenang persaingan dan menjadi penguasa/penjajah. Dengan pengecualian di Kalimantan harus berbagi dengan Inggris, di Timor harus berbagi dengan Portugis dan di Papua harus berbagi dengan Jerman dan Australia.

    Perang Dunia-2 (1939-45) berakibat sejumlah bangsa-bangsa di Asia Tenggara meraih kemerdekaan, ada yang melalui transisi namun ada yang melalui revolusi semisal Indonesia.

    Kemerdekaan yang diraih tersebut ternyata tidak dapat mengembalikan suasana saling silang dan saling padu pengaruh asing untuk berlangsung dengan damai. Sejumlah negara-negara di Asia Tenggara sempat terlibat konflik – yang sedikit banyak dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan di luar wilayah tersebut., mengingat wilayah tersebut bernilai sangat strategis sejak lama. Selat Malaka misalnya, sejak awal Masehi telah menjadi jalur laut penting dan masih demikian walaupun sudah ada pesawat terbang/perhubungan udara. Dengan demikian Asia Tenggara – khususnya Indonesia – masih merupakan wilayah menggiurkan : wilayah luas, letak strategis, alam kaya dan penduduk (umumnya) masih terbelakang. Terlalu berharga diabaikan begitu saja. Akibatnya, kemerdekaan yang diraih ternyata tidak membuat fihak asing berhenti mencari peluang menanamkan pengaruhnya. Supaya negara/bangsa di wilayah Asia Tenggara tetap merasa dekat – kalau perlu terikat/tergantung. Dengan kata lain, penjajahan pada hakikatnya belum mati, ia hanya berganti yaitu cara dan rupa. Penjajahan bukanlah suatu barang antik yang layak masuk museum, ia sukses menembus ruang dan waktu selama dunia masih ada. Bahkan pada zaman kita ini pun penjajahan model zaman batu yaitu pendudukan militer asing di suatu negeri ternyata masih ada semisal Palestina, “Iraq dan Afghanistan. Padahal ketiga negeri tersebut kurang menggiurkan dibanding Asia Tenggara.

    Perlu diketahui bahwa penjajahan mencakup 3 hal, dan penjajah berusaha memenuhi keinginannya minimal 1 hal. Adapun 3 hal tersebut adalah :
    1. Ekploitasi dibidang ekonomi, inilah motif paling dasar penjajahan. Penjajah berusaha meraih negeri yang sekaya mungkin sumber alamnya untuk mengeruknya dengan memberi pribumi sesedikit mungkin.
    2. Dominasi dibidang politik, kekuasaan politik sedapat mungkin dipegang oleh penjajah. Suatu negeri diatur menurut kepentingannya dan pribumi menjadi golongan yang diperintah.
    3. Penetrasi dibidang nilai/norma, penjajah sedapat mungkin memasukkan nilai/norma yang mereka anut ke dalam tata hidup pribumi. Nilai/norma tersebut dapat berupa agama atau budaya supaya terdapat kesamaan antara penjajah dengan yang dijajah. Hal tersebut membuat penjajah makin mudah mengatur tanah/warga jajahannya.

    Dalam konteks Indonesia pasca Perang Dunia-2 dan perang kemerdekaan/Revolusi 1945 (1945-50), sejumlah kekuatan asing berangsur-angsur kembali menanamkan pengaruh. Hal tersebut begitu tertolong karena ada saja sejumlah anak bangsa yang bersedia menjadi antek, umumnya mereka sudah bermental korup. Demi memperkaya diri, mereka tidak segan-segan menjadi alat fihak asing menggadaikan bangsa dan negaranya dengan sejumlah imbalan. Buat para antek, mereka cenderung tidak peduli apakah sumber daya alamnya dikuasai (dan tentu dikuras) fihak asing. Yang penting dapat bagian.

    Yang memprihatinkan, para antek tersebar di segala level – bahkan ada yang menjadi elit di pemerintahan. Jabatan yang mereka sandang serta gaji dari uang rakyat melalui pajak, yang mestinya digunakan untuk mengabdi “habis-habisan” untuk rakyat ternyata diselewengkan untuk tujuan yang berlawanan dengan itu. Melalui mereka, entah sudah berapa banyak sumber daya alam negeri ini yang sudah dikuasai/dikeruk fihak asing. Entah sudah berapa % saham aset nasional yang sudah bukan milik bangsa ini lagi. Indonesia mengalami model penjajahan yang jauh-jauh hari sudah diperingatkan oleh Bung Karno dengan istilah “nekolim” (neo imperialisme/kolonialisme). Tidak perlu ada pendudukan militer asing di Indonesia, negeri ini telah “menyediakan” sejumlah anak bangsa yang menjadi antek yang siap melaksanakan agenda asing.

    Selain eksploitasi dibidang ekonomi (yang samar-samar juga disebabkan oleh dominasi dibidang politik yaitu para antek yang menjadi elit), Indonesia juga tanpa terasa juga disusupi oleh berbagai nilai/norma asing : dari yang paling liberal (liberalisme) hingga yang paling radikal/fundamental (radikalisme/fundamentalisme). Setiap kepentingan asing ada anteknya. Negeri ini menjadi lahan pertarungan sengit sejumlah kekuatan asing tanpa kita sadari. Kita jalani hidup sehari-hari semisal pergi ke sekolah, ke kantor, ke pasar atau ke tempat wisata seakan-akan tidak terjadi hal-hal yang krusial di negeri ini.

    Pertanyaan yang mungkin muncul, siapakah fihak asing yang turut “bermain” di negeri ini? Siapa yang bertekad meraih minimal sepotong atau secuil pengaruh di negeri ini? Penulis menilai banyak, mungkin sulit dihitung atau dideteksi. Karena itu penulis coba batasi menyebut “para pemain” pada 4 fihak saja, dengan pertimbangan mereka relatif besar berpengaruh di negeri ini.

    1. Barat, sudah penulis sebut mereka yang pertama mengenalkan penjajahan pada abad-16. Dimulai sejak penaklukan Kesultanan Malaka oleh Portugis, bangsa Potugis adalah bangsa Barat pertama hadir bukan hanya sebagai pedagang, pelaut atau perantau namun juga sebagai penjajah. Kehadiran Portugis kemudian diikuti bangsa-bangsa Barat lain dengan tujuan serupa semisal Spanyol, Inggris, Belanda dan Perancis. Kehadiran mereka mengundang perlawanan dari pribumi dan juga bangsa-bangsa Asia lainnya. Bangsa-bangsa Asia kelak terpancing untuk berbuat serupa. Perang Dunia-2 yang berakibat harus melepas wilayah jajahan termasuk Indonesia tidak membuat mereka “kapok” untuk hadir kembali (tetap sebagai penjajah) dalam bentuk lain yang sesamar mungkin. Di atas telah disebut peran para antek yang membuat mereka masih punya pengaruh di Indonesia, antara lain faham liberalisme dengan berbagai dalil (atau dalih?) hak azazi manusia dan demokrasi.
    2. Jepang, bangsa Asia yang mungkin pertama paling sukses merebut pengaruh dengan cara gerakan militer. Jepang merasa sesak menyaksikan sekitar 80% planit ini dikuasai Barat dengan berbagai istilah : koloni, protektorat atau mandat. Muncul ide bahwa “Asia untuk orang Asia” – yang dapat (dan memang) diartikan bahwa penjajahan di Asia hanya boleh dilakukan oleh orang Asia, dan bangsa Asia yang paling canggih adalah Jepang. Pada awal Perang Pasifik (1941-5) banyak wilayah jajahan Barat di Asia-Pasifik sempat direbut oleh pasukan Jepang. Setelah melalui perang yang dahsyat kekuatan Barat – dengan istilah “Sekutu” – dapat memaksa Jepang menyerah, namun warisan pendudukan Jepang yaitu semangat anti imperialisme Barat memaksa mereka melepas wilayah jajahannya. Dan Jepang sendiri sanggup bangkit dari puing-puing Perang Dunia-2 dan menjadi raksasa ekonomi selama beberapa dekade. Larangan mengembangkan kekuatan militer oleh Sekutu mengalihkan seluruh energi bangsa untuk menjadi kekuatan ekonomi – yang sempat mengalahkan para pemenang perang dunia. Produk-produk Jepang membanjiri seantero dunia. Dan mimpi lamanya yaitu “Kawasan Sekemakmuran Asia Timur Raya” yang gagal dicapai dengan penaklukan militer agaknya tercapai melalui ekonomi. Indonesia kembali menjadi wilayah penyedia bahan baku sekaligus pasar bagi produk Jepang. Kesepakatan kedua negera yang tertuang dalam “IJEPA” (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) 2007 dinilai sejumlah anak bangsa adalah “penjajahan Jepang jilid-2”, antara lain karena dalam kesepakatan tersebut Indonesia menjamin ketersediaan pasokan energi Jepang dengan LNG. Yang berarti dapat mengancam ketahanan atau kedaulatan energi dalam negeri. Selain itu sejumlah warisan buruk penjajahan Jepang saat Perang Dunia-2 dinilai sejumlah anak bangsa belum tuntas. Perjanjian pampasan perang yang mengawali hubungan diplomatik Indonesia-Jepang pada 1958 hanya mencakup kerusakan materi dan belum mencakup penderitaan lahir batin rakyat Indonesia.
    3. Cina, setelah susah payah bangkit dari Perang Dunia-2 dan revolusi yang berbentuk perang saudara yang lama dan kejam, akhirnya terhitung menjadi kekuatan raksasa. Kebangkitan ekonominya berdampak pada kebangkitan militernya. Selain terlibat sengketa dengan Taiwan (Republik Cina) – yang dinilai sebagai provinsi pemberontak, juga terlibat sengketa dengan Jepang, Brunei, Vietnam, Filipina dan Malaysia terkait dengan klaim batas wilayah. Kesepakatan dalam bidang ekonomi yang berwujud perdagangan bebas dengan perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara – lazim disebut “ASEAN” – dengan nama “ACFTA” (Asean-China Free Trade Agreement), ternyata berdampak besar bagi Indonesia. Banjir barang produk Cina bagai tsunami membuat para produsen negeri ini meratap dan tiarap, produk dalam negeri ternyata kalah bersaing dengan produk Cina. Hal tersebut berdampak pada kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja. Cina seakan siap menjadi kompetitor Jepang dalam hal ini. Dengan kata lain, Cina mendapat peluang berpengaruh di negeri ini dibidang ekonomi. “Ekspor” faham komunis dan manuver militer agaknya (masih) “jauh panggang dari api”. Indonesia tidak berbatasan langsung dengan Cina dan faham komunis masih dinyatakan terlarang di Indonesia.
    4. Arab, agaknya ini kurang diperhatikan padahal usaha meraih pengaruh di negeri ini untuk atau dengan cara bertarung dengan fihak asing lain relatif sudah lama. Sejauh yang penulis tahu, pada akhir abad-18 atau awal abad-19 masuk faham pemurnian agama Islam yang disebut dengan “Muwwahid” namun kelak lebih dikenal dengan “Wahhabi”, nama yang dikaitkan dengan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Di Sumatera – tepatnya Minangkabau – sempat muncul revolusi yang awalnya melawan para tokoh adat lokal kemudian melawan penjajah, yang disebut dengan “Perang Paderi”(1821-37). Walau gerakan Paderi dapat ditumpas namun fahamnya tetap hidup hingga kini.

    Ada lagi masalah, sebagai akibat cara-cara indoktrinasi ala Orde Baru melestarikan nilai-nilai kebangsaan atau menjadi penafsir tunggal terhadap Pancasila, rakyat trauma dengan segala simbol atau identitas bangsa semisal Pancasila, lagu “Indonesia Raya” – atau pelajaran sejarah bangsa yang disesuaikan dengan penguasa dengan maksud melegitimasi kekuasaan. Pemerintahlah yang menetapkan “siapa yang pahlawan” dan “siapa yang pengkhianat atau musuh bangsa/negara” dalam pelajaran sejarah.Akibatnya ketika rezim Orde Baru tumbang, pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” dan “Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa” dihapus dan dimasukkan ke dalam “Pendidikan Kewarganegaraan”. Inilah yang kelak dinilai sejumlah kalangan menjadi penyebab lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, ekstrimisme, terorisme dianggap sebagai akibat dari lunturnya rasa identitas bangsa.

    1. Bangsa ini perlu memperkuat rasa identitasnya sebagai bangsa dengan cara menyajikan kembali pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dengan demikian bangsa ini tahu asal muasal atau proses terbentuknya bangsa dan negara ini. Metoda hafalan (nama orang, nama tempat, nama peristiwa dan tanggal peristiwa) harus diganti dengan metoda renungan atau analisa peristiwa yang dapat ditemukan relevansinya dengan zaman kini. Jadi, terasa ada kesinambungan antara masa lalu dengan masa kini.
    2. Jika pelajaran Pancasila harus disajikan kembali, metodanya juga diubah. Jangan pakai metoda hafalan atau indoktrinasi, tapi pakai juga renungan atau analisa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
    3. Segala dinamika yang terjadi pada masyarakat segera disimak dan dicari solusinya, jangan terkesan ada pembiaran oleh pemerintah atau menjadi komoditas politik. Hal tersebut perlu untuk memperkecil peluang fihak asing masuk dan bermain di negeri ini sesuai dengan agenda mereka.
    4. Kurangi ketergantungan dengan fihak asing, Indonesia memiliki banyak hal yang tak dimiliki sejumlah fihak luar : alam kaya, wilayah luas dan letak strategis sungguh dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat jika dikelola dengan tepat. Kriterianya adalah selalu mengutamakan kepentingan nasional, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
    5. Bangsa ini perlu suatu standar penyaring yang dapat mencegah faham-faham yang merugikan kepentingan nasional masuk ke negeri ini. Dengan demikian segala faham luar dapat memperkaya dan bukan memperdaya bangsa, atau keragaman di dalam adalah kekayaan dan bukan kerawanan bangsa.

    Usulan yang disajikan penulis masih dapat dibahas dan bukan satu-satunya kebenaran mutlak, artinya masih terbuka untuk penyempurnaan.

  27. Salsabilla February 13, 2012 11:40 am

    kalo, organisasi pertama pembentukan jepang apa sichh…??

  28. Alma February 16, 2012 9:16 am

    makasih ya infonya,, tugasnya jadi selesai deeh :)

  29. budi yani February 26, 2012 12:24 am

    makasih informasinya bagiku sangat penting untuk menyelesaikan tugas sekolah

  30. salsa billa evita March 1, 2012 2:09 am

    aq bangga jadi anak indonesia
    aq harus mencintai produk dalam negri

    aq ucapkan terhadap pahlawan terima kasih karena engkau sudah memerdekakan bangsa indonesia aq akan maengenang pahlawanku

    SELAMA LAMANYA

  31. Nurul Fadila March 2, 2012 11:41 am

    tidak mudah tuk memprjuangkan Indonesia…namun, aku sngat bngga menjadi anak Indonesia..
    Trimakasih pahlawan ku karna tanpa mu mukin negara ini tidak akan merdeka..

  32. erni s March 9, 2012 12:36 pm

    trims yach atas infonya persis dengan apa yang q kehendaki udah lama nggak lihat buku buat bahan ajar maklum…….

  33. abib April 12, 2012 4:22 am

    aku benci jepang dan belanda mereka telah menjajah indonesia terlalu lama aku benci jepang

  34. dyah annisa putri April 17, 2012 10:04 am

    saya mau nanya kalau empat pemimpin gerakan 3 Aitu siapa saja ? terima kasih|

  35. rosania ristanti October 3, 2012 10:00 am

    ..smoga kemerdekaan ini utk slama.a

  36. fandy kane May 30, 2013 11:53 pm

    tak-tik apa saja yang di lakukan bangsa jepang dalam mengusir bangsa belanda ??

  37. michaela elmera August 15, 2013 12:38 pm

    Indonesia hebat bgt ,,,, q cinta bgt ma bangsa Indonesia ini ,,,, soalnya q sbgai pelajar kawajibanku adalah BELAJAR karna dngn belajar itu sama dngn berjuang ,,,, berjuang melawan negara lain yang bisa merugikan bangsa Indonesia dengan kepandaian yang kta px

  38. dwi indah August 26, 2013 2:27 pm

    saya salut denga perjuangan para pahlawan yang telah memerdekakan indonesia, tapi menurut saya bangsa indonesia itu belum betul betul sempurna merdeka karena saat ini bangsa indonesia sedang di jajah oleh tekhnologi yang di buat jepang, nah dari situ kita harus berfikir dengan logis….trimakasih

  39. Anonymous September 11, 2013 11:53 am

    Nilai yang terkandung dari penjajahan Jepang apa saja ya?

  40. Nur fadila September 16, 2013 5:57 am

    Aku bangga jdi anak indonesia.

  41. avida shafa September 17, 2013 6:37 am

    indonesia belum merdeka karen sekarang indonesiansedang di jajah ekonominya olenh jepang

  42. QONITA September 21, 2013 10:26 pm

    BANGGA BANGETZ JADI WARGA NEGARA INDONSIA

  43. muhammad arafat September 22, 2013 12:19 am

    apa sih kesulitan kesulitan bangsa indonesia pada masa penjajahan jepang ?

  44. vina arfianty October 6, 2013 1:03 pm

    bangga bgt gw jdi bangsa indonesia tapi pemuda jaman sekarang ga liat perjuangan dulu malah bangga sama negara lain

Leave a Reply

Your email address will not be published.


− six = 1

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>