Minggu, 11 Juli 2010

kemajemukan masyarakat indonesia

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Kemajemukan Agama Di Indonesia “.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan aran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan ilmu yang lebih baik dan bermanfaat pada mereka yang telah membaca dan memberikan penilian dan saran atas makalah penulis ini, semoga dibalas oleh Allah SWT sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

                                                                                    Pekanbaru,  3  Maret  2011
                                                                    

                                                                                                     Penulis



DAFTAR ISI
Kata Pengantar....................................................................................................... 1
Daftar Isi................................................................................................................... 2
BAB I : PENDAHULUAN...................................................................................... 3
1.1.  Latar Belakang masalah .............................................................................. 3
1.2.  Rumusan Masalah ....................................................................................... 4
1.3.  Tujuan penulisan makalah ......................................................................... 4

BAB II : PEMBAHASAN....................................................................................... 5
A.   Kemajemukan masyarakat Indonesia.................................................... 5
B.   Agama Asli yang ada di Indonesia......................................................... 5
C.   Agama yang diakui di Indonesia saat ini .............................................. 12
D.   Tantangan dan strategi pemeliharaan kerukunan antar umat
beragama di Indonesia ............................................................................. 16

BAB III : PENUTUP............................................................................................... 20
Kesimpulan ................................................................................................ 21

Daftar Pustaka  .......................................................................................... 21

BAB I
PENDAHULUAN


1.1         Latar belakang

Di dunia, agama sudah menjadi hal yang formil bagi penduduknya. Agama bisa dibilang kepercayaan yang dianut setiap orang yang mengakui adanya tuhan yang menciptakan dunia. Masyarakat kita adalah masyarakat yang majemuk. Disebut masyarakat majemuk karena masyarakat kita berasal dari berbagai macam suku, agama, ras, dan budaya. Begitu majemuknya agama yang berada di Indonesia, termasuk agama yang kita kenal dan diakui di Indonesia saat sekarang ini. Tapi sebelumnya , dalam sejarah Indonesia, masih banyak lagi ternyata agama yang ada di Indonesia sebelumnya yang dikenal dengan agama asli di indonesia .

Di Indonesia memiliki 5 agama yang sudah diakui rakyatnya, yaitu islam, Kristen protestan dan katolik, hindu, Buddha dan konghucu. Setiap agama memiliki cara yang berbeda-beda dalam melaksanakan ritual agamanya. Dan apalagi Indonesia merupakan Negara yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam suku, yang biasanya memiliki hubungan erat dengan agama yang dianutnya masing-masing.






1.2 Rumusan masalah
A.   Apa yang dimaksud dengan kemajemukan agama di Indonesia ?
B.   Apa saja agama asli yang ada di Indonesia sebelum adanya pengakuan 5 agama yang ada di indonesia seperti saat ini !
C.   Jelaskan tentang 5 agama yang telah diakui di Indonesia pada saat sekarang ini !


1.3 Tujuan
Agar kita memperoleh wawasan yang lebih dari apa yang biasa kita dapat selama ini. Dengan membuat makalah ini, diharapkan kita mengetahui berbagai macam agama yang ada di Indonesia dari zaman sejarah sampai pada saat ini.






BAB I I
PEMBAHASAN
Kemajemukan Agama Di Indonesia

A.   Kemajemukan masyarakat Indonesia
Majemuk memiliki makna sesuatu yang beragam, sesuatu yang memilik banyak perbedaan begitupun dengan masyarakat Indonesia. Indonesia terkenal dengan kemajemukannya maka dari itu Indonesia sering disebut sebagai masyarakat yang bhineka tungal ika yang memiliki makna bahwa meskipun masyarakatnya memiliki perbedaan atau kemajemukan namun tetap satu jua.
Kemajemukan masyarakat dapat dipahami melalui dua titik pandang utama, pertama dipandang scara horizontal, pemahaman ini didasarkan pada fakta yang menunjukkan adanya satuan-satuan social yang keragamannya dicirikan oleh perbedaan suku bangsa, agama, adat-istiadat dan unsure-unsur kedaerahan lainnya. Kedua dipandang secara vertical, pemahaman ini didasarkan pada perbedaan-perbedaan yang bersifat vertical; artinya bahwa perbedaan dari unsure-unsur yang membuat keragaman tersebut dapat diukur berdasarkan kualitas atau kadarnya misalnya dari aspek ekonomi.

B.   Agama Asli yang ada di Indonesia
Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama “resmi” (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di  Jawa Tengah dan  Jawa Timur; agama Parmalim, agama asli Batak; agama Kaharingan di  Kalimantan; kepercayaan Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara; Tolottang di Sulawesi Selatan; Wetu Telu di Lombok; Naurus di Pulau Seram di Propinsi Maluku, dll.
Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil ,dsb. Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, Agama Asli Nusantara semakin punah dan menghilang, kalaupun ada yang menganutnya, biasanya berada didaerah pedalaman seperti contohnya pedalaman  Sumatra dan pedalaman  Irian Jaya.
Yang dimaksud dengan agama asli adalah agama yang bukan datang dari luar suku penganutnya . Karenanya agama asli kerap juga disebut agama suku yang berbeda dengan agama dunia . Agama asli ini pada dasarnya tidaklah bersifat misioner. Agama ini lahir dan hidup bersama sukunya dan mewarnai setiap aspek kehidupan suku penganutnya. Agama ini telah dianut oleh suku penganutnya jauh sebelum agama dunia diperkenalkan kepada suku itu.


Daftar Agama Asli Nusantara (kepercayaan)

    Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
    Agama Jawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)
    Buhun (Jawa Barat)
    Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
    Parmalim (Sumatera Utara)
    Kaharingan (Kalimantan)
    Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
    Tolottang (Sulawesi Selatan)
    Wetu telu (Lombok)
    Naurus (pulau Seram, Maluku)
    Aliran Mulajadi Nabolon
    Marapu (Sumba)
    Purwaduksina
    Budi Luhur
    Pahkampetan
    Bolim
    Basora
    Samawi
    Sirnagalih
    

v  Sekilas tentang beberapa agama asli yang ada di Indonesia
1. Sunda Wiwitan
Sunda Wiwitan (Bahasa Sunda : “Sunda permulaan”, “Sunda sejati”, atau “Sunda asli”) adalah agama atau kepercayaan asli masyarakat Sunda yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda.
Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes,  Lebak,  banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul,  Cisolok, Sukabumi;  Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu.
Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Buddha, melainkan penganut ajaran leluhur, yaitu kepercayaan asli nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran “Jatisunda“.
2. Agama Djawa Sunda
Agama Djawa Sunda (sering disingkat menjadi ADS) adalah nama yang diberikan oleh pihak antropolog Belanda terhadap kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur. Abdul Rozak, seorang peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dari agama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur di Kabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di  Kabupaten Lebak, para pemeluk “Agama Kuring” di daerah Kecamatan  Ciparay, Kabupaten Bandung, dll.


3. Kejawen
Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa.
Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama asli Nusantara. Seorang ahli anthropologi Amerika Serikat,  Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut “Agami Jawi”.
Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta  filosofii orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa.
Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku.
Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau  Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.


4. Parmalim
Parmalim, adalah nama sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dibilang agama yang terutama dianut di  Propinsi Sumatra Utara. Agama Parmalim adalah agama asli suku  Batak.Pimpinan Parmalim saat ini adalah  Raja marnangkok Naipospos.
Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak dahulu kala. “Tuhan Debata Mulajadi Nabolon” adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh “Umat Ugamo Malim” (“Parmalim”).
 5. Kaharingan
Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah  kepercayaan/agama lokal  suku  Dayak di  Kalimantan Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap  Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Karena Pemerintah  Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu  agama yang diakui Pemerintah, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tolottang (Hindu Tolottang)  pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu sejak 20 April 1980, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai  Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying.
6. Wetu Telu
Wetu Telu (Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami  pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam.
Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam di masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.
7. Marapu
Marapu adalah sebuah agama lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Agama ini merupakan kepercayaan peninggalan nenek moyang dan leluhur. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini.
Pemeluk agama ini percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu.
upacara keagamaan marapu ( seperti upacara kematian dsb) selalu diikuti dengan pemotongan hewan seperti kerbau dan kuda swebagai korban sembelihan, dan hal itu sudah menjadi tradisi turun – temurun yang terus di jaga di Sumba.

C.   Agama yang diakui di Indonesia saat ini
a)    Islam

Islam adalah Agama yang mengimani satu tuhan, Islam secara bahasa (secara lafaz) memiliki beberapa makna. Islam terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab): “Sin”, “Lam”, dan “Mim”.
Beberapa kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam”, memiliki kaitan makna dengan Islam.

Islam secara bahasa adalah : Islamul wajh (menundukkan wajah), Al istislam (berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj).

Secara istilah, Islam berarti wahyu Allah, diin para nabi dan rasul, pedoman hidup manusia, hukum-hukum Allah yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan dia merupakan jalan yang lurus, untuk keselamatan dunia dan akhirat.

1. Nama kitab suci Agama Islam : Al-Qur’an.
2. Nama pembawa Ajarannya : Nabi Muhammad SAW
3. Permulaan : Kurang/lebih 1400 tahun lalu.
4. Nama tempat peribadatan : Masjid.
5. Hari besar keagamaan : Muharram, Asyura, Maulud Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’ an, Idul Fitri, Idul Adha, dan Tahun Baru Hijriah.




b)    Kristen Protestan dan Katolik

Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasarkan pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama kristen ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Murid-murid Yesus Kristus pertama kali dipanggil Kristen di Antiokia
Protestan adalah sebuah mazhab dalam agama Kristen. Mazhab atau denominasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalil nya. Kata Protestan sendiri diaplikasikan kepada umat Kristen yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik.

Kata Katolik sebenarnya bermakna “universal” atau “keseluruhan” atau “umum” (dari ajektiva Bahasa Yunani (katholikos) yang menggambarkan sifat gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus.

1. Nama kitab suci Kristen Protestan dan Katolik : Injil.
2. Nama pembawa Ajaranya : Isa / Yesus Kristus.
3. Permulaan : Kurang/lebih 2.000 tahun lalu.
4. Nama tempat peribadatan : Gereja.
5. Hari besar keagamaan : Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Isa Almasih, dan Pantekosta.

c)    Hindu

Agama Hindu Adalah agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini, Hindu dalam Bahasa Sanskerta artinya : Sanatana Dharma “Kebenaran Abadi”, dan Vaidika-Dharma (Pengetahuan Kebenaran).
Hindu adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM.

1. Nama kitab suci Hindu               : Weda
2. Nama pembawa Ajaran             : -
3. Permulaan                                    : Masaprasejarah.
4. Nama tempat peribadatan         : Pura.
5. Hari besar keagamaan               : Nyepi, Saraswati, Pagerwesi, Galungan, dan Kuningan.

d)    Buddha

Buddha dalam Bahasa Sansekerta adalah : Mereka yang Sadar, Yang mencapai pencerahan sejati. dari perkataan Sansekerta: “Budh”, untuk mengetahui, Buddha merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama, guru agama dan pendiri Agama Buddha dianggap “Buddha bagi waktu ini”. Dalam penggunaan lain, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar.

Penganut Buddha tidak menganggap Siddharta Gautama sebagai sang hyang Buddha pertama atau terakhir. Secara teknis, Buddha, seseorang yang menemukan Dharma atau Dhamma (yang bermaksud: Kebenaran; perkara yang sebenarnya, akal budi, kesulitan keadaan manusia, dan jalan benar kepada kebebasan melalui Kesadaran, datang selepas karma yang bagus (tujuan) dikekalkan seimbang dan semua tindakan buruk tidak mahir ditinggalkan).

1. Nama kitab suci Buddha : Tri Pitaka.
2. Nama pembawa Ajarannya : Sidharta Gautama.
3. Permulaan : Kurang/lebih 2.500 tahun lalu.
4. Nama tempat peribadatan : Vihara.
5. Hari besar keagamaan : Waisak dan Katina.

e)    Kong Hu Cu

Kong Hu Cu atau Konfusius, adalah seorang guru atau orang bijak yang terkenal dan juga filsuf sosial Tiongkok, terkadang sering hanya disebut Kongcu (Hanzi, hanyu pinyin: Kongfuzi?Kongzi) (551 SM – 479 SM). Filsafahnya mementingkan moralitas pribadi dan pemerintahan, dan menjadi populer karena asasnya yang kuat pada sifat-sifat tradisonal Tionghoa. Oleh para pemeluk agama Kong Hu Cu, ia diakui sebagai nabi.

1. Nama Kitab suci Kong Hu Cu : -
2. Nama Pembawa Ajarannya : Kong Hu Cu
3. Permulaan : -
4. Nama Tempat Ibadahnya : Klenteng/Vihara
5. Hari besar Keagamaannya : Sembayang kepada arwah leluhur, Tahun Baru Imlek, Ca Go Mek, Twan Yang, Twan Yang, Hari Tangcik / Sembayang Ronde dll


D.   Tantangan dan strategi pemeliharaan kerukunan antar umat beragama di Indonesia

Indonesia adalah bangsa yang majemuk yang diperlihatkan dari banyaknya agama, suku, dan ras. Kemajemukan di Indonesia telah lama hadir sebagai realitas empirik yang tak terbantahkan. Indonesia kemudian dikenal sebagai bangsa dengan sebutan “mega cultural diversity karena Indonesia terdapat tidak kurang dari 250 kelompok etnis dengan lebih dari 500 jenis ragam bahasa yang berbeda.

Agama-agama yang hidup di Indonesia mencerminkan pluralitas keyakinan dan keimanan terhadap Tuhan. Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu sering disebut sebagai agama resmi negara karena enam agama inilah yang banyak mendapatkan fasilitas secara khusus oleh negara. Meskipun keenam agama ini yang mendapatkan perhatian negara, tetapi para penganut agama lainnya, seperti Baha’i, Sinto, Yahudi, dan agama pribumi yang diwarisi oleh keyakinan para leluhur diberikan kebebasan untuk dipeluk dan diyakini oleh masyarakat.

Kemajemukan agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia telah membuktikan bahwa masyarakat plural (plural society) telah hidup berdampingan dalam perbedaan. Masyarakat hidup rukun dalam gerak sosial, ekonomi, agama dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Indonesia hidup harmoni dan damai sejak beratus-ratus tahun meskipun berbeda agama. Di beberapa daerah, perbedaan agama justru terjadi di dalam satu keluarga, yang diikat oleh satu adat istiadat.

Kesepahaman dan kesalingmengertian antar masyarakat di sejumlah daerah dibingkai oleh kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Karifan lokal telah mampu menjadi model yang dapat merawat harmoni dan damai di masyarakat. Kearifan lokal merupakan sumber nilai yang penting dalam kehidupan masyarakat. Hampir semua adat dan kebudayaan suku bangsa di tanah air terinspirasi oleh nilai-nilai dan gagasan yang berakar dari kepercayaan yang hidup di masyarakat. Dengan kata lain, nilai-nilai keagamaan, adat, dan budaya merupakan manifestasi pandangan hidup dan etos spiritual masyarakat yang merupakan kristalisasi pembelajaran dari hasil interaksi dan internalisasi nilai-nilai manusia terhadap lingkungannya dari generasi ke generasi.

Ada tiga kecenderungan yang sering dihadapi masyarakat majemuk. Yakni,
(1) mengidap potensi konflik yang kronis di dalam hubungan-hubungan antar kelompok.
(2) Pelaku konflik melihat sebagai all out war (perang habis-habisan).
(3) proses integrasi sosial lebih banyak terjadi melalui dominasi atas suatu kelompok oleh kelompok lain.

Potensi konflik dalam masyarakat mejemuk ini menjadis esutau yang sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di masa lalu kerukunan umat beragama harus dibayar dengan amat mahal; meledaknya konflik antar agama di sejumlah daerah. Karena itulah, tantangan terbesar dari masyarakat majemuk adalah rapuhnya ikatan kebersamaan akibat perbedaan agama yang mudah menyulut konflik agama jika tidak berhasil dikelola dengan baik. Konflik agama selalu menjadi tantangan yang sangat serius bagi bangsa Indonesia yang majemuk.

Dengan kata lain, kemajemukan sering menjadi sumber ketegangan sosial. Karena, kemajemukan sebagai sumber daya masyarakat yang paling pokok untuk mewujudkan masyarakat plural dikikis habis oleh kepalsuan dan manipulasi.

Tak heran jika bangsa Indonesia pernah mengalamai konflik di Ambon dan Poso. Konflik massif di Ambon dan Poso tampaknya bukan akhir dari konflik. Konflik baru masih bermunculan dalam skala kecil, tetapi meluas ke banyak daerah dalam bentuk konflik pendirian rumah ibadah.

Bekasi, Bogor, Depok, Kupang, Denpasar, Kota Padang, Makassar, dan sejumlah daerah lainnya menunjukkan eskalasi konflik kecil dalam soal pendirian rumah ibadah. Masyarakat masih begitu sensitif terhadap hal-hal yang dianggap menyinggung keyakinannya, terutama dalam pendirian rumah ibadah dan penyiaran agama. Ini berarti tingkat potensi laten terjadinya konflik bernuansa agama di Indonesia masih cukup tinggi.

Ada Empat strategi dalam memelihara kerukunan antarumat beragama.

1.    Pertama, memperbesar aktor perdamaian. Asumsinya adalah mengubah pandangan masyarakat untuk memiliki pandangan dan pemahaman agama dan kebudayaan yang inklusif dan toleran diperlukan waktu yang relatif lama. Karena mengubah adalah pekerjaan yang dijangkau dengan perhatian yang lebih serius. Dengan membalik teori “mengubah” menjadi “memperbanyak” atau “memperbesar” aktor perdamaian, maka makin lama akan semakin banyak orang-orang yang lebih suka dengan perdamaian daripada orang-orang-orang yang suka konflik.


2.    Kedua, memperluas forum-forum perdamaian di masyarakat. Semakin banyak forum-forum kultural yang mendiskusikan uapaya-upaya perdamaian, maka akan semakin mempersempit gerak konflik. Forum-forum perdamaian merupakan sarana yang paling efektif untuk mengumpulkan dan memperkuat soliditas masyarakat damai yang aktif. Forum-forum rutin yang menghadirkan komunitas elitis-struktural dan populis-kultural akan menjadi jembatan bagi komunikasi antar kelompok masyarakat.

3.    Ketiga, memperkuat jaringan perdamaian. Jaringan merupakan alat yang efektif untuk mengakselerasi kepentingan perdamaian. Dengan jaringan yang kuat, baik dalam hubungan dengan sesama masyarakat, sesama tokoh agama/adat, media, pemerintah, DPRD, kepolisian, LSM, dan stakeholder lainnya. Upaya pencegahan konflik biasanya berbasis jaringan untuk mengkomunikasikan danmensosialisikan setiap temuan potensi konflik atau strategi penyelesaian konflik.

4.     Keempat, mengadvokasi perdamaian. Inilah bagian dari upaya mengubah kebijakan agar negara semakin peduli terhadap eksistensi perdamaian, terutama bagaimana negara tidak membuat kebijakan yang menyulut konflik atau tidak melinsungi korban konflik. Advokasi biasanya dilakukan kepada Pemda, Kepolisian, DPRD dan lembaga negara lainnya. Advokasi tidak bisa dilakukan secara sederhana karena memerlukan kepercayaan, otoritas, legitimasi, dan kemauan untuk mengintervensi kebijakan negara.



BAB I I I

PENUTUPAN

Kesimpulan

Mengelola kemajemukan, bukanlah perkara yang mudah. Di satu sisi, umat beragama sebagai salah satu komponen bangsa berusaha memelihara identitas dan memperjuanghkan aspirasinya.
Pada sisi lain, mereka juga dituntut untuk memberi andil dalam rangka memelihara kerukunan dan keutuhan bangsa. Dalam kaitan ini diperlukan kearifan dan kedewasaan di kalangan umat beragama, untuk memelihara keseimbangan antara kepentingan kelompok dan kepentingan nasional. Sehubungan dengan hal ini pula, diperlukan kebijakan strategis yang dapat menciptakan dan memelihara kerukunan umat beragama, guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang aman, damai, maju, sejahtera dan bersatu.